Candi Borobudur menjadi destinasi wisata andalan Indonesia. (Foto: Yose Piliang)

Inilah Perilaku Wisatawan Millennial 14 Negara di Asia Pasifik

Medan, SumutOnline-Millennial mewakili lebih dari 45 persen populasi Asia Pasifik, dan dengan lebih dari 60 persen millennial dunia diharapkan akan hidup di Asia di tahun 2020, kelompok ini tidak bisa diabaikan. Apakah yang diperlukan untuk menangkap hati, pikiran dan pengeluaran mereka? Amadeus hari ini mengungkap apa yang diinginkan orang-orang berumur 18-35 tahun di Asia Pasifik dalam hal perjalanan wisata.

Journey of Me Insights: What Asia Pacific Millennial Travelers Want adalah yang terbaru dari seri laporan Journey of Me yang pertama kali diluncurkan Amadeus di Agustus 2017. Dilakukan lewat kolaborasi dengan YouGov di 14 negara Asia Pasifik[2], riset ini dilakukan terhadap 6870 responden, 45% di antaranya merupakan millennial ketika data dikumpulkan.

Wisatawan India Tertinggi Gunakan Sharing Economy

Lebih dari generasi-generasi yang ada sebelumnya, millennial merangkul teknologi, pengalaman dan cara perjalanan baru. 42% millennial mengatakan mereka biasanya menggunakan aplikasi ride-sharing ketika melakukan perjalanan, dan 35% sering menggunakan layanan sharing economy untuk akomodasi. Millennial di India khususnya sudah lebih banyak menganut sharing economy dibandingkan di negara-negara Asia Pasifik lainnya, dengan 75% menggunakan aplikasi ride-sharing dan 55% menggunakan aplikasi home-sharing. Sebaliknya, wisatawan millennial di Jepang merupakan yang paling sedikit menggunakan layanan-layanan tersebut, dengan lebih dari 90% mengatakan mereka tidak pernah atau jarang menggunakannya.

Menargetkan keinginan millennial untuk pengalaman-pengalaman baru merupakan peluang emas untuk penyedia perjalanan. Bahkan, riset ini menemukan bahwa setelah rekomendasi untuk membantu menghemat biaya (42%), millennial di Indonesia paling tertarik dengan rekomendasi yang bisa membuat perjalanan mereka lebih nyaman (35%), diikuti oleh rekomendasi yang dapat memberikan pengalaman baru bagi mereka (30%). Mereka juga terbuka bagi penyedia perjalanan untuk mengirimkan rekomendasi-rekomendasi tersebut atau informasi lewat platform-platform alternatif. Ketika 31% millennial Asia Pasifik memilih menerima informasi lewat email, hanya 19% di Indonesia yang memilihnya. Sebaliknya, mayoritas millennial Indonesia memilih dihubungi lewat media sosial (34%), lebih tinggi secara signifikan dibandingkan rata-rata Asia Pasifik (23%).

Andy Yeow, General Manager, Amadeus Indonesia, mengatakan, “Generasi millennial sungguh merupakan generasi yang sangat menarik. Mereka bertumbuh dengan internet dan teknologi merupakan hal yang sangat biasa bagi mereka. Mereka memiliki keterbukaan terhadap pengalaman-pengalaman baru dan ingin mendobrak status quo. Mereka menginginkan pengalaman berbeda ketika melakukan perjalanan, karenanya industri harus memberikan pelayanan yang berbeda. Penyedia perjalanan butuh mengadopsi teknologi baru, strategi baru, dan, terutama, cara berpikir baru jika ingin menangkap pikiran dan pangsa pasar millennial. Dengan mengerti apa yang mendorong millennial Asia Pasifik dan apa yang mereka hargai ketika melakukan perjalanan, dunia usaha akan lebih siap memenuhi kebutuhan generasi ini.”

Manusia Di Atas Merk

Seberapa pentingkah influencer? Sepertinya tidak terlalu penting. Ketika ditanya siapa yang memiliki pengaruh paling besar ketika merencanakan perjalanan, dan dari mana mereka menerima rekomendasi perjalanan, sebagian besar millennial Indonesia menjawab keluarga dan teman, diikuti oleh situs-situs booking online atau perjalanan, dan kanal-kanal media sosial. Yang cukup mengejutkan adalah, millennial menempatkan selebriti dan influencer di posisi paling bawah, bahkan lebih rendah dibandingkan brosur dan petunjuk perjalanan.

“Meskipun millennial mungkin masih mengacu pada influencer untuk tren, ide dan inspirasi, saya percaya mereka juga menjadi semakin pintar dalam bagaimana mereka mengevaluasi influencer. Dengan semakin banyak influencer yang menjadi merek bagi diri sendiri, daya tarik mereka akan menjadi pudar. ‘sesuatu yang nyata’ lebih penting dari ‘sempurna’, dan itu merupakan pelajaran yang penting dipelajari oleh industri,” imbuh Yeow.

Wisawatan Millenial Pemberani

Millennial memiliki reputasi sebagai pemberani. Riset ini membuktikan hal tersebut benar adanya untuk beberapa bagian, namun tidak semuanya. Dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya, millennial memiliki kecenderungan kecil untuk menghindari destinasi yang menjadi tempat serangan terror, politis atau demonstrasi sosial, atau destinasi yang mungkin akan terkena bencana alam seperti gempa bumi. Sementara 59% generasi baby boomer akan menghindari destinasi yang mungkin akan terkena bencana alam, hanya 51% millennial yang berpendapat sama.

Namun, riset ini juga menemukan bahwa millennial lebih tertutup dibandingkan wisatawan yang lebih tua dalam hal berbagi informasi pribadi dengan penyedia perjalanan, sebagai imbalan untuk penawaran yang relevan atau layanan khusus. 68% baby boomer dan 66% generasi X mengatakan mereka terbuka untuk berbagi informasi, sementara hanya 62% millennial Asia Pasifik berpendapat sama. Riset ini juga menemukan bahwa millennial Taiwan (76%) dan Indonesia (75%) adalah yang paling terbuka, sementara Jepang (33%) dan Selandia Baru (45%) adalah yang paling tertutup. Kewaspadaan ini mungkin karena millennial merupakan generasi nativ digital yang paham teknologi, sehingga lebih waspada terhadap masalah keamanan dan privasi.

“Meskipun riset ini menyoroti berbagai perilaku dan prefensi unik wisatawan millennial Asia Pasifik, penting juga untuk menunjukan bahwa terdapat banyak kemiripan antara millennial dan generasi-generasi sebelumnya. Personalisasi menjadi semakin penting, menjadi sesuatu yang nyata adalah kunci, dan wisatawan ingin terhubung dengan konten yang tepat, melalui kanal yang tepat, dan di waktu yang tepat. Yang pasti adalah industri perjalanan hanya bisa berhasil jika kita menempatkan wisatawan sebagai pusat dari semua hal yang kita lakukan,” kata Yeow.

Journey of Me Insights: What Asia Pacific travelers want dilakukan lewat kolaborasi dengan YouGov di 14 negara Asia Pasifik termasuk Australia, China, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand dan Vietnam. Seluruh data, kecuali dinyatakan sebaliknya, disediakan oleh YouGov. Ukuran sampel total adalah 6.870 orang dewasa di Asia Pasifik yang telah melakukan perjalanan internasional dalam 12 bulan terakhir, 45% di antaranya merupakan millennial (berumur antara 18 – 35 tahun) ketika data dikumpulkan. Riset dilakukan di bulan Mei 2017. Survei ini dilakukan secara online. (yp)

Check Also

KORAK Dampingi Proses Hukum Yusro Terkait Cuitan “Copot Kapolda”

Medan~Sumut Online– Beberapa waktu belakangan ini marak terjadi tindak pidana yang menjerat pekerja media (wartawan-red) terkait …