PENGUASA TERTINGGI PARA PEROKOK

MATAHARI  tak terlihat dan langit abu-abu saat aku menyadari bukan aku bos di rumahku sendiri. Untuk pertama kalinya aku sangat marah. Duit cuma 50 ribu, saat si gadis bilang beras dan gula sudah habis. Kupegang uang 50 ribu. Beli beras dua kilo aja, bathinku.

“Beras dua kilo, gula setengah kilo, sisanya beli rokok mama ya,” kataku sambil menyerahkan uang ke tangan si gadis.

Si gadis langsung protes. Wajahnya pas seperti sempak baru, ketat.

“Mama ni, rokok aja yang dipikirinya. Sabun cuci pun udah nggak ada. Rokok mama dua batang ajalah,”katanya.

Aku menggaruk kepalaku. Pingin kali kuremas muncungnya, tapi itu bukan gayaku.

“Oke, rokok setengah bungkuspun jadi,”kataku.

Dia pergi dengan wajah yang masih tak enak kutengok. Akupun melanjutkan pekerjaanku sambil mengisap rokok terakhir yang kupunya. 10 Menit si gadis kembali dan meletakkan sebatang rokok di mejaku.

“Lho, koq sebatang?” Tanyaku.

“Nggak cukup duitnya,”jawab si gadis dan berlalu.

Aku memandang rokok sebatang itu. Kulihat asbakku, sudah penuh dengan puntung rokok. Kusisihkan puntungan yang masih bisa diisap lagi, sisanya bersama segumpal abu kubuang ke tong sampah. Ini, bukan kejadian pertama. Ini adalah kejadian ke sejuta lebih dalam hidupku. Tiap kali kehabisan rokok, seperti kiamat kecil. Tak ada nasi, tak ada lauk, itu takkan mengguncang jiwaku. Tapi nggak ada rokok, kata kalak karo….LA TERKATAKEN. Aku menghentikan pekerjaanku, pindah ke taman kecil samping rumah menikmati rokok terakhir sambil memandang kolam yang belum sempat kubersihkan.

Sehari, aku menghabiskan 3 bungkus rokok. Sebungkus 22 ribu kali tiga berarti 66 ribu. Jumlah itu bertambah jika aku bertemu dengan kawan-kawan. Sebulan budget rokok berarti 1,8 juta sampai 2 juta, lebih tinggi pastinya dibandingkan gaji karyawan kecil yang baru masuk.

Aku tersedak. Sudah dua kali lebaran haji aku nggak Qurban. Tentu saja bukan rokok ini penyebabnya. Tapi berapa banyak kesempatan yang sudah kubuang karena rokok ini. Akupun ingat kalimat seorang Imam.

“Saat lagi stres, banyak pikiran, mak Yos cari apa?” Tanyanya.

“Rokok,” jawabku.

“Hilang stressnya?” Tanyanya lagi.

“Lumayanlah Imam. Kalau nggak ada rokok ya tambah stress,”jawabku sambil tertawa.

“Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q. S. Ar-Ra’d), udah pernah coba?” katanya. Aku menggeleng. Dia tersenyum. Tapi kini aku mengingatnya sambil melihat rokok di jari kiriku.

Astaghfirullah, sudah 30 tahun lebih aku merokok. Menjadi teman dalam seluruh kehidupanku. Menjadi bos hidupku, bahkan mungkin tanpa sengaja menjadi Tuhanku.

“Nah ma, ini awak belikan rokok. Mama kalau dah nggak merokok, macam orang bodoh”, Tiba-tiba saja si gadis di depanku sambil mengantar sebungkus rokok. Aku bengong. Kupegang sebungkus rokok itu.

“Kimbek kau ya rokok, jadi bos aku rupanya kau betahun-tahun. Ko tengok nanti ya,”bathinku.

Kusimpan dalam kantong. Dan hari ini kurasa aku harus mulai belajar bercerai dengan rokok ini. Mungkin dimulai dengan menyetubuhi sebungkus saja sehari dikurangi puasa Senin-Kamis.

Insya Allah…………